Follow me for TWITTER @TuLIPBerhasil

Follow me for TWITTER @TuLIPBerhasil

Senin, 17 Agustus 2009

TPM #28: Pilar ke 5: EEM (Early Equipment Management)

TPM #28: PILAR ke 5, Early Equipment Management

Bagian 1: Master Plan Design, Early Equipment Management & Process Management?




Telah dibahas sedikit dalam Toyota Way Prinsip ke 8, yaitu bagaimana manajemen yang benar adalah manajemen yang menyediakan sarana dan suasana yang kondusif bagi tumbuhnya produktivitas dengan selalu mengedepankan peran Manusia dan proses.


Kaitan dengan bahasan yang salama:
http://bestmanufacturing.blogspot.com/2009/03/prinsip-ke-8-dari-toyota-production.html

Metodologi pada Toyota Way prinsip ke 8, Lean Six Sigma pada DFSS/DMAIC/Process management dan Pilar ke 5 TPM adalah sama. Bahwa sebuah design teknis pada mesin dan proses sudah seharusnya mengedepankan :

1. Kemudahan operator dalam menghasilkan barang berkualitas yang konsisten
2. Meningkatnya produktivitas operator karena kemudahan kerja dan suasana kerja yang mendukung
3. Jaminan kepastian mutu pada tahap Materials incoming, inprocess dan finishing
4. Proses kerja produksi yang stabil, tidak hadirnya penyimpangan, kehandalan alat kerja dan ringkas

Dengan ke 4 syarat tadi, maka pengendalian mutu dapat dipastikan hadir dititik awal input, proses produksi, produk jadi dan pengiriman barang kepada pelanggan. Dan tujuan akhir yang dicapainya adalah 6Sigma variasi atau 99.997% GOOD QUALITY ~ menuju kepada ZERO DEFECT.


Para praktisi TPM menyebut pilar ke 5 ini dengan beberapa sebutan antara lain : Master Plan Design, Early Equipment Management (EEM) & Process Management.

Saya memilih pilar ke 5 ini sebagai Early Equipment Management dan saya mengartikan sebagai : Sebuah kegiatan yang terencana pada rekayasa teknis dalam membuat sebuah alat/mesin menjadi lebih sederhana dalam hubungannya dengan pengoperasian (kerja operasi/operator) dan perawatan alat/mesin.


Early Equipment Management terdiri tiga elemen strategi, yaitu :

1) Design for Quality
  • Mendesign sebuah mesin dan proses kerja yang handal untuk menghasilkan barang yang bermutu tinggi, stabil dan tanpa breakdown.
2) Design for Maintainability
  • Design mesin dengan pemilihan material yang baik dan memiliki daya tahan
  • Tahap fabrikasi yang terkontrol pada ukuran dan jenis parts mesin, mutu parts serta proses pengerjaan Assembling bagian mesin yang akurat
  • Adanya panduan pemasangan dan lay-out
  • Gambar instalasi yang benar, jelas dan mudah dipahami
  • Panduan cara pengoperasian yang sederhana
  • Adanya panduan trouble shooting yang jelas dan benar
  • Kelengkapan manual dan dokumentasi
  • Pelatihan dari ahli team pabrikasi alat dan teknis pengoperasian
  • Installasi dan proses Trial run yang benar dan terdokumentasi
  • Proses commissioning dan project hand-over yang benar dan lengkap (check-list & sign-off)
  • Penetapan perencanaan perawatan mingguan, bulanan dan tahunan. Baik secara tindakan dan perkiraan serta control biaya operasi.
3) Life cycle costing
  • Metode costing process dan produksi yang baik dan benar, sehingga terukur (mampu telusur secara laporan keuangan). Hal ini akan memudahkan manajemen mengukur kinerja produksi dan biaya operasi.
Selanjutnya untuk membahas EEM, saya menggunakan pendekatan praktis dalam bekerja dibidang Manufacturing dibanding berbicara secara teknis tentang design mesin dan proses (saya berfaham, bahwa ada pihak yang lebih handal dan hebat untuk membicarakannya dari sudut kaca-mata Design Engineering of Equipment).

Pada EEM ini yang akan saya bahas adalah pendekatan Industrial Engineering dan Operation Management dalam meningkatkan Kinerja (produktivitas) Manufacturing.

Dukungan pihak Engineering 100% terlibat dan support baik disisi Design, Equipment, Maintenance, Proses dan Investasi akan menyelaraskan tindakan pada pecapaian goal perusahaan. Engineering yang saya maksud adalah Department Process Design, Engineering (equipment, mechnical, electrical), Product Development dan Team Investasi (Capital Expenditures, CAPEX).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar