Follow me for TWITTER @TuLIPBerhasil

Follow me for TWITTER @TuLIPBerhasil

Kamis, 19 Maret 2009

Memahami POHON & BUAH Best Practices

“Memahami POHON & BUAH Best Practices ”

“Pemborosan terbesar adalah pada pemborosan yang tidak terlihat oleh mata” (Taiichi Ohno)

Adalah sebuah perjalanan proses. Dari biji menjadi tunas, dari tunas menjadi batang pohon, berdaun berbunga dan kemudian berbuah. Semua itu adalah proses. Ada yang membuat proses itu dipersingkat, yaitu dengan sistem cangkok, kawin silang, namun lagi-lagi ada proses berdaun, berbungga dan kemudian berbuah. Semua itu adalah proses.


Hal yang benar dalam organisasi adalah bangunlah PONDASI yang KOKOH, kemudian buatlah TANGGA PIJAKAN sehingga seluruh komponen organisasi dengan mudah fokus (tentunya dengan meningkatnya kompetensi dalam bekerja dan alat produktivitas) untuk melangkah satu tapak demi satu tapak naik hingga dapat memetik ”SWEET FRUIT”.


Sangat manusiawi sekali, keinginan mendapatkan hasil secara cepat namun terkadang lupa resiko yang mungkin harus dihadapinya, yaitu runtuhnya bangunan karena pondasi pijakan yang rapuh, ketidak konsistenan hasil. Dan mereka berhenti cukup sampai disitu, malu mengatakan bahwa tahapan berikutnya melibatkan emosi dan kepentingan sesaat, itu adalah kerumitan yang tidak mudah, tetapi pasti bisa dimiliki.


Dalam kehidupan sehari-hari dapat mudah kita kenali dengan fenomena bahwa orang tua yang membawa anaknya ke dokter dengan harapan anaknya cepat sembuh dari sakit tanpa mempedulikan takaran obat dan jenis obat yang diberikan.


Pendek kata: ”Yang penting cepet sembuh, kasihan kalau terlalu lama sakitnya”. Alhasil, para dokter yang pandai itu memberikan obat yang cukup manjur dengan harga yang relatif mahal dan dengan takaran yang sedikit over dosis. Anda pasti tahu apa efek jangka panjangnya...?


Semua ada takaran dan tahapannya, itu yang patut disadari sedari awal. Demikian juga kondisi bisnis organisasi kita.

Tidak ada yang instan, yang ada adalah tahapan proses dan bila ingin lebih cepat maka hilangkan pemborosan dalam rantai proses itu.


Pemahaman tentang ’Pohon dan Buah pada Manufacturing Excellence’:

1) Ground Fruit, Produktivitas tingkat 50 s/d 65% (atau dibawah 2.5 Sigma)

Buah yang berserakan di tanah yaitu buah yang jatuh dari pohon. Rasanya bisa manis, bisa pula sudah busuk ketika kita menemukannya. Kuncinya adalah ”LOGIKA dan STANDARD BASIC RULES’. Ketiga hal tadi tidak memerlukan ’ROKET SCIENCE’ atau alat cangih. Memang bukan ALAT CANGIH, namun jangan salah persepsi, tetapi Anda sedang berhadapan dengan SEKUMPULAN MANUSIA.


Karena disinilah pondasi kuat itu HARUS HADIR. Yaitu pondasi budaya kerja. Pondasi ’PENGERTIAN’ bekerja dengan benar.


Namun sering kali disepelekan bahkan menjadi CIBIRAN ketika berdikusi... ”Itu karena tidak disiplin... itu karena kelalaian... itu karena sembrono”. Pertanyaannya: ”Mengapa Engkau biarkan bila tahu demikian? Mengapa Engkau hanya menunjuk dengan satu jari, padahal ke-empat yang lainnya kepada dirimu sendiri?”


Karena Semua pekerja yang handal tentu memilikinya:

  • Logika, Installasi yang mengunakan besi medium berada pada lingkungan yang lembab maka konsekuensinya adalah umur pendek karena karat. LOGIKA è Proses Oksidasi dan pembentukan karat

  • Standard Basic Rules, Check list sebelum melakukan pekerjaan. Teramat mudah menyepelekan hal kecil, namun itu sebenarnya adalah hal yang fundamental dalam bekerja. Dan berapa banyak produk yang telah terkena rejection akibat kecerobohan ini? Lupa set temperatur yang benar... Lupa Angka satu koma dibelakang titik... Lupa Order tambahan... Lupa pesan... Lupa Kencangkan Baut... Lupa ini dan itu... atau sudah di Tik (check box) namun belum dilaksanakan ... dst...

Dalam pendekatan Best Practices, Ground Fruit dapat selalu dipanen dan terus mendatangkan keuntungan bagi organisasi, bila pondasi yang kokoh telah terbentu pada Working Place Arrangement yang benar (5S atau 6S), Pekerja yang handal dalam mental dan perilaku kerja dan Kerja kelompok berdasar prinsip KAIZEN.


Membangun budaya yang berkaitan dengan perubahan dan manusia, tentu tidaklah mudah.

a) Memulai dari Pucuk Pimpinan tentang perubahan mendasar tentang filosofi jangka panjang

b) Keterlibatan dari bawah ke atas

c) Mengunakan manajer madya sebagai agen perubahan

d) Membutuhkan waktu pengembangan, pelatihan bagi karyawan sehingga keselarasan pertumbuhan dengan tuntutan filosofi (budaya) perusahaan dan kepertingan produktivitas kerja

e) Memahami tahapan perubahan dengan rasional dan emosional dan penyelarasan bagi ke-duannya.

2) Low Hanging Fruit, Produktivitas tingkat 60 s/d 75% (berkisar 3 Sigma)

Buah yang mengantung rendah, memang mudah untuk dijangkau. Namun rasanya belom tentu manis. Bahkan buah pada level ini sangat rentan dengan hama (Dicuri, rusak karena fisik..dst).


Untuk merengkuh produktivitas level ini, kelompok kerja diwajibkan untuk memeliki kemampuan:

  • Seven Tools problem Solving (Brainstorming, Cuase & effect Diagram, Pareto, Statistical Tools...)
  • Single Exchange Minutes Dies untuk mengurangi change over
  • Poka Yoke untuk mendeteksi kesalahan sedari awal dan tidak membiarkan kesalahan diteruskan ke proses berikutnya (Save falling & Mistake Proof)
  • Lean Value Stream Mapping, menghilangkan non-add value proses dan 8 aspek pemborosan ditempat kerja
  • KANBAN dan Just In Time, Material Balance dan Process Balancing
  • Visual Factory Management, Glass Wall Magement dan Visual Board Activities
  • Kegairahan hidupnya KAIZEN team (GEMBA)
  • ...


3) Bulk of Fruit, Produktivitas tingkat 75 s/d 98% (perjalanan 4 Sigma menuju 5.5 Sigma)

Pada bagian tengah pohon, berbuah sangat lebat.

Jumlahnya terbanyak, namun diperlukan alat untuk menjangkaunya agar buah yang dipanen tidak berjatuhan dan rusak.

Peningkatan kinerja pada tahapan ini sering dikenal dengan nama SIX SIGMA, yaitu sebuah alat yang mereduksi variasi dalam proses. Variasi artinya ketidak stabilan, penyimpangan, pemborosan dan terjadinya kesalahan yang menyebabkan kerugian dan biaya tambah.

Sesuatu yang belum ideal adalah peluang untuk improvement :

· Variasi & defect adalah bad COST

· Memahami pelanggan dan proses kerja akan menghubungkan ‘WHAT & HOW’ lebih harmoni

· Titik kritis mutu pelanggan adalah penting

· Rata-rata performa dalam lingkar kendali

· Setiap penyimpangan dan pemborosan harus dihilangkan

· Meningkatkan nilai tambah dan memperpendek waktu pengerjaan/pengadaan (Lead-time)


Contoh dalam penghilangan variasi dan defect pada On-time delivery:

4) Sweet Fruit, Produktivitas tingkat 95 s/d 99.997% (perjalanan 5 Sigma menuju 6 Sigma)

Sebuah design yang baik akan mengakomodasi keinginan pelanggan, kemampuan proses, deteksi dini pada potensi keluhan dan mampu dengan mudah diperbaiki ataupun ditingkatkan kinerjanya. Seberapa sering kita temui, bahwa yang merasa benar adalah design-nya dibanding proses lain yang nantinya akan menjadi pelaksana.


Padahal, yang benar Design adalah muara dari Kapabilitas proses, Konsistensinya Mutu dan Produktivitas Proses Kerja.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar