Follow me for TWITTER @TuLIPBerhasil

Follow me for TWITTER @TuLIPBerhasil

Kamis, 10 September 2009

TPM #42: Pillar 6, Quality System untuk Zero Defect

TPM #42: PILAR ke 6, Quality Maintenance System ‘Hinshitsu Hozen’

Bagian 6: Quality System untuk Zero Defect


Untuk mencapai kondisi Zero Defect maka quality system memerlukan dukungan dan landasan system kerja. Adanya kegagalan system dalam mendeteksi suatu proses yang berak cepat dan dinamis dalam menghilangkan masalah (quality problem). Quality system management tersebut harus dikendarai dengan kesungguhan dan kekuatan, sehingga pemborosan dapat dihilangkan dan pada akhirnya perusahaan dapat menghemat dan mendapatkan keuntungan mutu dengan hilangnya pemborosan.


Sering kali budaya mutu yang ada dibanyak perusahaan hanya didasarkan atas sertifikasi mutu pada quality management system (process & product). Prosedur yang dibuatpun seadanya dan cenderung sebagai panduan atas kegiatan pemadaman api masalah (fire fighting). Munculnya masalah berulang adalah ciri bahwa quality management system yang ada belum maksimal dalam mencegah dan mengoreksi permasalahan yang muncul pada proses kerja. Bila lebih diperhatikan lagi, banyak hal yang tidak terencana dan kejutan muncul, contohnya: mesin rusak tiba-tiba, susulan order, adanya kegiatan yang melibatakan karyawan tanpa koordinasi terlebih dahulu, dsb.


Quality Management System sudah seharusnya mengantarkan kita kepada process system untuk menghilangkan pemborosan dan sekaligus permasalahan mutu produk.

1. Mengidentifikasikan, menurunkan dan mengukur (menghitung) dari biaya atas kerusakan mutu

2. Mengembangkan kemampuan dan pengetahuan ‘Know-How’ dalam kegiatan menghapuskan permasalahan atas mutu.

3. Berubahnya pemahaman dari Quality Control Produksi menjadi Process Control, kemudian menciptakan kondisi management system kerja yang efisien untuk mempertahankan keuntungan dan saving bagi perusahaan.


Yang dimaksudkan dalam Biaya Pemborosan/kerusakan atas Mutu (Off Quality Cost) adalah:

1. Internal Quality

  • Process Scrap
  • Quality loss
  • Material yield
  • Over-usage
  • Waste & scrap removal
  • Rework
  • Downgrading to lower quality level
  • Obsolete products dan over production
  • Produk tidak terjual

2. Inspection

  • Testing (pengetesan, uji laboratory)
  • Sample
  • Control operator
  • Alat measurement system
  • Statistical Process Control pada proses dan hasil produksi

3. Prevention


  • Standardization dan specification
  • Poka Yoke
  • Inspection operator
  • Statistical Process Control pada proses dan hasil produksi
  • Quality system, implementasi dan audit
  • Training

4. External Quality


  • Complains
  • Claim
  • Product return
  • Replacement
  • Black list supplier

Perubahan pemahaman Quality pada Quality Control menjadi Process Control dapat diilustrasikan sbb:
  • QUALITY CONTROL adalah Mencicipi sedikit pada setiap Kue Donat yang dibuat.
  • STATISTICAL PROCESS CONTROL adalah mencicipi satu kue donat setiap Nampan (Kotak).
  • PROCESS PARAMETER MANAGEMENT adalah mengatur dan memastikan Suhu, Waktu, Pemeriksaan adalah benar sesuai petujuk cara memasak.
  • KONDISI IMPROVEMENT MANAGEMENT adalah mengejakan pekerjaan dasar (basic activities) pada alat masak, alat ukur (timbangan, timer dan suhu), meja hidangan dan alat kebersihan. Diharapkan bahwa alat masak akan bekerja dengan benar, meja hidangan besih dan alat kebersihan benar-benar menghilangkan kontaminan, sehingga pengunjung senang dan membeli produk yang dihasilkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar