Follow me for TWITTER @TuLIPBerhasil

Follow me for TWITTER @TuLIPBerhasil

Rabu, 09 September 2009

TPM #41: Pillar ke 6, Quality X-Matrix dan Quality Machine-Matrix pada implementasi Zero Defect

TPM #41: PILAR ke 6, Quality Maintenance System ‘Hinshitsu Hozen’

Bagian 5: Quality X-Matrix dan Quality Machine-Matrix pada implementasi Zero Defect



Prinsip dari Quality Maintenance System adalah mencapai implementasi TPM dengan benar (~ sempurna) dengan hasil (objectives): ZERO ABCDE (Accident, Breakdown, Chronic, Defect & Environment) atau lebih disederhanakan menjadi Zero Defect.


Defect Mode atau model kerusakan maksudnya adalah mengobservasi, mencatat dan menjelaskan bahwa permasalahan mutu diklasifikasikan dengan benar, baik dan dikumpulkan (didapat) dengan cara yang akurat (reliable), sehingga pada saat dituangkan dalam QA matrix grafik Pareto yang didapat akan dengan mudah menganalisa dan menentukan tindakan selanjutnya.


Quality Assurance (QA) Matrix akan mengidentifkasikan permasalahan kerusakan produk yang sebenarnya dari input Team Continues Improvement. Input yang dimaksud adalah Prioritas tahapan proses yang berbeda-beda dan beberapa indikasi pada ditemukannya akar permasalahan.


Cara yang dipergunakan dalam Improvement Methods adalah menganalisa tahapan proses bermasalah hingga ditemukannya akar masalah, dengan menggunakan diagram alir sederhana hingga yang komplek untuk menganalisa tindakan preventive maintenance atau proses kerja. Keluaran dari Improvement ini dijabarkan dengan mengunakan analisa 5M (Machine, Material, Method, Man dan Measure).

1. Mesin akan dijabarkan lebih lanjut dalam QX matrix yang berisi Quality Points dengan rincian Quality terhadap komponen dan Quality pada Parameter proses kerja dan operasi mesin. Pada factor ini fisik spare-parts, bagian mesin, sub-assembli, poros, driver, motor, ..dll diperiksa untuk mendapatkan ketangguhan dan kehandalan mesin.

2. Materials yang dimaksud adalah sifat dan specifikasi property dan fungsi material sebagai bahan baku dan bahan pendukung produk. Bila material sebagai input ini dikendalikan dengan mutu, maka variasi yang ada adalah variasi dalam kendali yang akan menghasilkan produk yang direncanakan.

3. Metoda atau cara proses kerja dipandu dengan quality working instruction yang mudah dimengerti, dikerjakan dan dipatuhi, sebab tahapan operasi kerja adalah kunci penting mengasilkan produk yang bermutu dan konsisten.

4. Manusia pekerja dibekali pengetahuan yang baik dan benar, kemampuannya terus diupayakan meningkat sehingga pemecahan masalah dan kegiatan improvement menjadi dinamis dan cepat tanggap. Keterlambatan penanganan berarti pemborosan atas waktu.

5. Sistem pengukuran (Measurement system) didasarkan pada property proses dan output yang diharapkan hadir ditanggan pelanggan. Inilah yang nantinya digunakan sebagai jaminan atas mutu produk.


Quality Management Matrix adalah jaminan bahwa proses kerja dikendalikan dan dirawat secara benar dengan mengunakan mekanisme Check List [What + Who + When + How + Where].

1. Daftar nilai toleransi yang membatasi penyimpangan mutu sehingga defect (model defect) dapat diukur dengan pasti.

2. Tentukan petugas yang melakukan pengecekan dengan metoda: What + Who + When + How + Where.

3. Hubungkan kombinasi tindakan, check list dan kerusakan.

4. Buatlah check list yang benar-benar dapat menjamin bahwa penyimpangan dapat diketahui sedari awal.

Kondisi dari Quality Management System adalah menjamin bahwa efisiensi kerja dan efektivitas pelaksanaan pengendalian mutu dilaksanakan dengan benar dan disiplin. Hal ini didasarkan pada pelaporan bulanan atau triwulanan yang tindaklanjuti dengan Laporan atas fungsi mutu dan hasil dari tindakan pencegahan dan koreksi terhadap pemasalah yang ada pada periode tersebut, sehingga diwaktu mendatang telah siap untuk merespon kondisi penyimpangan dengan cepat dan pasti berhasil (solve).


Tindakan Improvement dari Quality Management system di-targetkan bahwa fungsi quality bergeser dari Quality Control menjadi Quality Assurance atau menjamin mutu kerja secara mandiri, sehingga didapat efisiensi dari segi tenaga dan waktu kerja yang lebih cepat. Improvement yang dimaksud adalah bahwa pengendalian menjadi sempurna karena ditanggani oleh pekerja yang ahli dibidang operasinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar