Follow me for TWITTER @TuLIPBerhasil

Follow me for TWITTER @TuLIPBerhasil

Senin, 04 Mei 2009

PENYAKIT pada NEGATIF CASH FLOW



“Pada Tabel COST diatas ada 3 faktor yang menyebabkan Posisi CASH FLOW Perusahaan NEGATIF. Yaitu: 1) TOTAL CASH IN (Total Sales Revenue) 2) CASH IN HAND 3) CASH OUT (TOTAL COST Expenses)

Yang mempengaruhi Cash in:

1) Penjualan

2) Collection


Yang mempengaruhi Cash in Hand:

1) Stock Raw Materials

2) Work In Progress

3) Slow Moving Stock

4) Slow Moving finished goods

5) Dead Stock


Yang mempengaruhi Cash out:

1) Barang datang lebih awal

2) Penyelesaian order lebih awal, tidak langsung terjual

3) Over consumption

4) Harga beli yang lebih mahal

5) Payment term yang lebih pendek dibanding Collection

6) Investment dengan tingkat pengembalian yang rendah


SALES


  1. Sales atau penjualan adalah aktivitas menjual barang jadi produksi kepada pelanggan dengan ketentuan: Menjual barang yang berkualitas dan tepat waktu sesuai dengan kebutuhan pelanggan dan memastikan terjadinya PEMBAYARAN tepat WAKTU dan Pencapaian Keuntungan lebih besar dari target bagi perusahaan.
  2. Tahukan Anda bahwa dari hasil study untuk setiap penurunan harga (discount) 5% s/d 10% hanya akan terkompensasi bila penjualan meningkat 30%? Artinya, bila salesman menjual harga dengan discount 10% untuk menghasilkan Revenue dan Nilai keuntungan yang sama, maka artinya Sales harus mampu menjual 30% volume lebih tinggi.
  • Bagian Produksi harus memproduksi lebih sebesar 30%.
  • Meningkatnya biaya Inventory, Biaya Transportasi, Biaya Bunga dan biaya-biaya lain terkait.. (Hati2 dengan kapasitas dan kemungkinan adanya investasi tambahan???)

INVENTORY

Inventory tidak sekedar Raw Materials. Tetapi juga termasuk: WIP, Finished Goods Stock (FGS), baik yang slow moving maupun yang Dead Stock.

  • Hal-hal kecil yang sering sepelekan adalah pengembalian materials dari produksi yang tidak semestinya, seharusnya dipallet dan dipacking tidak dilakukan, alhasil barang tersebut rusak.
  • Packing yang seadanya sehingga barang tumbang atau terjatuh dan rusak.
  • Peletakan yang tidak sesuai sehingga barang tertabrak dan rusak.
  • Barang tidak di-identifikasikan dengan benar sehingga pada saat diperlukan tidak ditemukan dan akhirnya harus membeli unit baru.
  • Penghitungan WIP yang tidak akurat dan berakibat pada over production.
  • Memproduksi barang tanpa perintah yang jelas dan sesuai dengan permintaan order.
  • Toleransi yang berlebihan.
  • Penumpukan barang bermasalah yang tidak segera diselesaikan, sehingga menyebabkan kerusakan dan dead stock
  • Proses produksi yang tidak terkontrol dan mudah untuk mengeluarkan perintah re-work atau re-make. Hal ini menyebabkan inventory bertambah disebabkan oleh aturan minimum order quantity.
  • Kebijakan pembelian asal Murah tanpa mempertimbangkan munculnya biaya atas qualitas dan produktivitas.
  • Permintaan barang yang tidak terencana dengan baik sehingga menimbulkan kepanikan dan biaya tinggi.
  • Permintaan yang lebih awal sehingga berdampak pada pembayaran yang lebih awal pula, namun barang yang dihasilkan tidak segera menghasilkan Cash.
  • Permintaan yang tidak jelas, sehingga ketika barang datang, barang tersebut tidak bisa dipergunakan

MANUFACTURING

Memproduksi barang adalah selalu berdasar pada prinsip MUTU dan kepatuhan terhadap perintah pengerjaan.

  • Sering kali karena sikap kerja yang kurang profesional mengampangkan cara; Order verbal yang belum jelas karena hubungan pertemanan maka order diproses. Namun begitu barang tersebut siap dikirim order dari pelanggan belum juga datang atau mungkin cancel karena berganti model.
  • Lingkungan kerja yang acak-acakan dan tidak tertata menyebabkan proses produksi memiliki alur yang tidak teratur, waktu handling yang lama, biaya kerusakan tinggi, barang WIP yang tidak teridentifikasi, banyaknya dead stock di working station, kotor dan bahkan bercampurnya material atau produk bagus dan reject.
  • Bekerja cepat dan potong kompas dengan mengedepankan ’PERSEPSI sama dengan KEMARIN’, pada hal setiap order memiliki keunikan dan ada kemungkinan berganti specifiaction. Akhirnya produk tersebut tidak dapat dijual.
  • Produktivitas yang tidak sesuai dengan design awal. Sehingga mengakibatkan ROI tidak tercapai.
  • Pembelian peralatan kerja hanya berdasar pada batasan tertentu, namun tidak melihat kebutuhan jangka panjang. Hasilnya adalah double investment untuk menutup kekurangan 50% dari kebutuhan pada renana penjualan tahun depan.
  • Design yang tidak mempertimbangkan kemampuan produksi dan ketersediaannya stock bagi produksi masal
  • Design hanya bekerja atas prinsip kesempurnaan namun kurang cermat dalam membaca ’apa yang sebenarnya diinginkan pelanggan?’
  • BUDAYA BACA dan BACA lagi untuk Instruksi kerja, Specifikasi MUTU dan Setting Parameter yang digampangkan atau disepelekan. RIGHT FIRST TIME!!!

Bagaiman sikap Anda bila Anda menjadi pemimpin sekaligus Pemilik perusahaan ini?

Akankah Anda memberikan toleransi bagai NEGATIVE CASH FLOW?

Bila jawabannya tidak, maka Anda termasuk orang yang mengerti dan menemukan jawaban... ”Mengapa Atasan Anda cukup CEREWET dalam 2 bulan terakhir ini....?”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar