Follow me for TWITTER @TuLIPBerhasil

Follow me for TWITTER @TuLIPBerhasil

Kamis, 30 Juli 2009

TPM #20: Pilar ke-3 PLANNED MAINTENANCE SYSTEM

TPM #20: Pilar ke-3 PLANNED MAINTENANCE SYSTEM
Bagian 1: Memahami apa yang dimaksud dengan Sistim Perawatan yang Terencana

Tujuan dari Perencanaan Pemeliharaan (Preventive Maintenance Program & System) adalah untuk mencapai keadaan yang berkualitas, efektif dan mampu memberikan nilai kepuasan bagi pelanggan.
Kepuasan Pelanggan yang dimaksudkan adalah : Mutu yang sesuai dengan harapan, Harga yang kompetitif (tidak harus murah = perbandingan mutu, fungsi, daya tahan dan harga sampai ketanggan pelanggan) dan Tepat waktu sesuai dengan kebutuhan.

Empat kegiatan dalam Perencanaan Pemeliharaan :

  1. Preventive Maintenance
  2. Breakdown Maintenance
  3. Corrective Maintenance
  4. Maintenance Prevention

Dengan diterapkannya Preventive Maintenance System maka maintenance staff dapat membimbing para operator untuk dapat terlibat dalam kegiatan perawatan mesin dan peralatan kerja.

Kebijakan dalam Preventive Maintenance System adalah meliputi :

  1. Kondisi prima dan handal pada peralatan dan mesin kerja, selalu siap digunakan
  2. Biaya maintenance yang optimum dan efektif
  3. Berkurangnya Inventory Spare-parts
  4. Berkurangnya biaya pemakaian consumables parts/items
  5. Meningkatnya pencapaian OEE (Overall Effectiveness Equipment)

Hal-hal penting dalam Maintenance Mesin :

  1. Dalam bekerja selalu diawali dan diakhiri dengan budaya Pemilahan, Penataan, Pembersihan dan Keselamatan kerja (6S = Managing working place)
  2. Prinsip penting dalam maintenance adalah mengetahui kondisi mesin saat prima menghasilkan produk yang berkualitas (Setting, Parameter, Kondisi fisik)
  3. Adanya catatan mesin (historical & operation records) yang akurat, mudah ditemukan dan mudah dianalisa, yaitu catatan pada getaran, suhu, tekanan, kebisingan, konsumsi spare-parts, bahan bakar, performa kerja (mutu dan hasil)
  4. Fokus dan cepat merespon bila ditemukan pemakaian konsumsi parts yang berlebihan, boros bahan bakar, kinerja menurun, sering down time dalam rentang waktu pendek dan adanya ketidak normalan
  5. Adanya perawatan harian, mingguan dan periodik sesuai jadwal dengan pencatatan yang rapih dan benar
  6. Tahu benar titik kritis perawatan, struktur konstruksi mesin, sistem kontrol dari sebuah mesin/alat kerja
  7. Mesin yang bagus akan dengan mudah diketahui ketidak normalannya (berisik, tetesan, retakan, panas, pemborosan…)
  8. Mesin yang baik selalu memiliki perlindungan keselamatan kerja
  9. Adanya cadangan spare-part (inventory tidak selalu disimpan didalam perusahaan), mudah didapat dan tersedia saat diperlukan.



Enam tahapan dalam penerapan Preventive Maintenance System :

  1. Adanya evaluasi dan catatan mutu tentang performa kerja dari alat dan mesin kerja saat ini
  2. Mengembalikan kehandalan mesin (seperti kondisi baru) dan peningkatan performa dengan menghilangkan titik kelemahan alat/mesin
  3. Kegiatan Preventive Maintenance System dengan menggunakan Computer System (IMS = information management system)
  4. Membuat Preventive Maintenance Schedule yang mencakup nama bagian/operasi, bagian mesin, lama perbaikan, team kerja, kesiapan spare-parts dan perkiraan biaya
  5. Menjalankan kegiatan Preditive Maintenance yang benar (Mesin, Alat, Jadwal kerja dan Teknik)
  6. Mengevaluasi ke-efektif-an kinerja Preventive Maintenance secara periodik


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar